Mencegah Burnout di Kantor

admin 30 September 2020 0 Comments

Istilah burnout pertama kali diperkenalkan oleh Herbert J. Freudenberger, seorang psikologis asal Amerika. Ia menggunakan istilah burnout untuk menggambarkan perasaan kegagalan dan kelesuan akibat tuntutan yang terlalu membebankan tenaga dan kemampuan seseorang.

Jadi, siapa saja bisa merasa lelah. Namun, biasanya burnout menyerang orang-orang yang memiliki komitmen sangat tinggi terhadap pekerjaannya. Rasa lelah biasa bisa diatasi dengan istirahat, tetapi orang yang mengalami burnout juga merasakan kekecewaan mendalam.

Jadi, apa bedanya dari stres?

Stres sering kali terjadi dalam jangka waktu pendek dan biasanya disebabkan oleh perasaan bahwa Anda tak bisa mengontrol pekerjaan. Anda bisa merasa stres selama beberapa hari berturut-turut, terutama jika Anda sedang mengerjakan proyek besar atau dikejar banyak deadline. Namun, begitu proyek selesai dan deadline berhasil ditepati tepat waktu, biasanya stres akan menghilang dengan sendirinya.

Sedangkan, burnout biasanya menyerang seseorang dalam jangka waktu panjang. Seseorang bisa mengalami burnout ketika ia merasa bahwa pekerjaan yang ia lakukan tak memiliki arti apa pun, ketika ia tidak “terhubung” dengan apa yang dikerjakan, atau ketika terjadi perubahan yang dianggap buruk—misalnya seperti ketika atasan favorit memutuskan resign dari kantor atau saat beban kerja memuncak melebihi kemampuan.

Saat terserang burnout, produktivitas Anda bisa menurun drastis. Tak hanya berpengaruh pada karir, hal tersebut juga akan berdampak buruk pada tim dan perusahaan. Anda bahkan akan mencari-cari alasan agar bisa mengambil cuti dari kantor. Jika Anda tidak mencegah burnout, maka bisa menyebabkan masalah kesehatan, seperti insomnia hingga depresi. Karenanya, Anda bisa melakukan beberapa tips mencegah burnout berikut ini untuk mengatasinya.

Belajar Mengenali Gejala-gejala Burnout

Tips satu ini lebih cocok diterapkan untuk para atasan, manajer, atau team leader. Namun, bukan berarti karyawan biasa tidak bisa menerapkannya pula. Masalahnya, ketika beban kerja sedang tinggi, akan sulit bagi Anda untuk mengecek bagaimana performa dan kondisi anggota tim Anda. Tidak semua orang yang terkena burnout mampu mengenali kondisi tersebut. Maka, penting bagi Anda sebagai atasan untuk mengenalinya agar bisa mengambil tindakan.

Misalnya, ketika Anda memperhatikan karyawan A terlihat begitu bersemangat dalam mengerjakan tanggung jawabnya, pastikan bahwa ia tidak menangani hal-hal lebih dari kemampuannya. Dengan begitu, Anda bisa mengelola beban kerja yang ditampungnya agar bisa mencegah burnout.

Beberapa gejala burnout adalah memiliki sedikit energi dan enggan berangkat kerja, sering absen, merasakan sakit secara fisik seperti sakit kepala, mudah merasa tersinggung, menyalahkan orang lain atas kesalahan yang diperbuat, menjauh secara emosional dari rekan-rekan kerja, hingga memiliki pikiran untuk resign.

Lakukan Job Analysis

Saat Anda sedang memiliki beban kerja tinggi, di mana Anda harus terus bekerja tanpa henti sejak pagi hingga malam, Anda akan merasa sedang berada di atas treadmill yang tidak akan pernah berhenti. Hal ini sering kali memicu stres yang akan berujung pada burnout.

Salah satu tips mencegah burnout paling efektif adalah melakukan job analysis. Pertama, lihat kembali job description Anda. Cari tahu hal-hal apa saja yang harus diprioritaskan. Lalu, pahami strategi dan budaya yang berlaku di perusahaan. Hal ini akan membantu Anda memahami bahwa hal-hal yang Anda kerjakan pasti akan memberi sumbangsih kepada perusahaan. Mengetahui budaya perusahaan juga akan membantu Anda untuk menghindari hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan.

Selain itu, cari tahu pula rekan-rekan kerja Anda yang menjadi karyawan unggulan di perusahaan. Coba perhatikan, apa yang membuat mereka mampu meraih kesuksesan di tempat kerja. Langkah berikutnya adalah memastikan bahwa Anda memiliki resource yang memadai untuk memulai pekerjaan. Setelah itu, datangi atasan Anda untuk mengonfirmasi tentang prioritas pekerjaan yang harus Anda kerjakan lebih dulu. Pastikan pula bahwa Anda dan atasan memiliki pemahaman sama terhadap pekerjaan tersebut.

Dengan job analysis, Anda bisa mengetahui apakah pekerjaan tertentu sesuai dengan skill dan kemampuan Anda. Risiko burnout pun bisa sangat ditekan.

tips-mencegah-burnout

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *